Pengantar
Eileen Rahman, seorang penulis pengembangan diri yang judul bukunya membuat saya tergelitik setahun yang lalu. Judulnya sederhana, lugas, tegas dan mantap:
Sukses Jadi Profesional
Buku ini pula yang memotivasi saya untuk menulis The Grinding Month pada beberapa hari yang lalu. setidaknya pada tanggal 3 Februari ini sudah masuk tiga hari dalam program The Grinding Month. Hari pertama adalah hari yang paling sulit saya tetap telat kerja dan masih selalu mengurusi hal-hal yang bukan menjadi prioritas. Hari kedua mulai muncul semangat dan motivas untuk menempa diri menjadi lebih baik dan siap digembleng.
Hari ketiga memang tidak ada perubahan signifikan. Ada keyakinan dalam diri bahwa program ini berjalan dan akan meningkatkan kualitas diri kembali menjadi pribadi yang baik serta lebih baik lagi. Sesuatu yang paling signifikan dirasakan adalah munculnya perasaan yang memotivasi diri sendiri untuk lebih baik. Misalnya ketika ingin berangkat kerja sepertinya nurani ini berkata.
"ayo cepat, jangan telat."
Kemudian ketika ada pekerjaan yang tertunda nurani juga terus berkata
"ayo harus amanah, jangan mengecewakan orang lain, harus lebih baik."
Itulah hal-hal signifikan yang saya rasakan dalam program The Grinding Month. Sejak itu pula saya mulai rutin membaca buku disela-sela waktu kosong meskipun hanya 15 menit. Sukses Jadi Profesional adalah buku yang pernah saya baca, namun saya ulangi lagi membaca karena isinya mengandung kata-kata dan pemahaman untuk menjadi diri yang lebih baik. Selama 3 hari ini pun saya merasa tidak perlu memendam rasa dan kata-kata yang saya suka atau tidak suka, tetapi dengan cara yang baik. Ketika saya kecewa terhadap teman saya sampaikan saya kecewa.
Motivasi
Motivasi adalah pembahasan pertama yang dibahas Eileen Rahman pada bukunya. Motivasi pun berdasarkan bukunya masih merupakan misteri yang susah untuk dipecahkan namun indah untuk dirasakan. Motivasi ini juga ada yang memang benar-benar motivasi hakiki dan ada pula motivasi yang jelek. Berdasarkan asal usulnya kita mampu membedakan apakah motivasi yang kita miliki ini adalah motivasi yang jelek atau motivasi yang hakiki.
Apakah seseorang bekerja untuk menerima gaji? Ya... pasti karena memang tujuan utama bekerja pasti mencari nafkah. Bekerja dalam hal ini bukan hanya anda menjadi seorang pegawai, namun ketika anda menjadi seorang pengusaha anda tetap bekerja. Hal yang sangat wajar jika seseorang pegawai bekerja karena motivasi eksternal dirinya yaitu mendapatkan gaji. Motivasi karena mendapatkan gaji ini pun dapat pudar sehingga ada orang yang malas-malasan dan tidak bergairah dalam bekerja padahal dia setiap bulan mendapatkan gaji atau pendapatan. Artinya motivasi eksternal atas gaji dan upah ini adalah motivasi yang jelek sehingga bisa pudar sesuai keadaan dan niat.
![]() |
| Pixabay. com by Quangpraha |
Ada pula motivasi bekerja karena pujian dari seseorang atau kasih sayang seseorang. Seperti suami yang bersemangat bekerja untuk memenuhi nafkah istri dan anaknya. Ini juga seperti seorang pegawai yang loyal bekerja untuk mendapatkan nama baik dari atasan dan pengakuan dari rekan kerjanya bahwa dia seseorang yang berprestasi. Apakah yang terjadi jika suatu hari nanti sumber motivasi itu hilang? Tentu motivasi dan semangat bekerja akan hilang tak membekas.
Eileen Rahman mengajarkan bahwa sumber motivasi yang hakiki itu bukanlah motivasi eksternal yang memberikan imbalan atas setiap usaha yang dilakukan. Motivasi hakiki berasal dari dalam diri yang terus hidup tanpa naik turun dan tetap stabil. Antusiasme adalah salah satu sumber motivasi yang hakiki, setidaknya antusiasme membuat seseorang termotivasi dari proses belajar yang ia terus lakukan ketika bekerja. Bukan berarti hal ini seseorang harus berorientasi terhadap proses namun menghargai beserta mensyukuri proses yang telah dilakukan.
Motivasi adalah hal yang terus bergerak bergantung pada pribadinya. Bisa saja seseorang yang sumber motivasinya adalah proses tetapi tidak bersemangat karena Ia biasanya mengeluh tidak ulet dalam berproses. Saya memperhatikan ternyata ibadah itu juga sebuah proses mengapa? Karena hanya ibadah yang dilakukan seseorang dari Ia lahir di dunia hingga mati. Sehingga bekerja karena ibadah, berusaha karena ibadah dan berkegiatan karena ibadah adalah salah satu motivasi yang baik. Meskipun tidak semua orang dapat melakukan ini namun tetaplah berproses dalam bekerja, berproses dalam memperbaiki diri dan akan muncul tekad dan motivasi dari kita menghargai proses tersebut.
Saya pernah membaca kalimat
"Sebaiknya semangat dan motivasi itu tidak perlu berkobar seperti nyala kompor yang berkobar akan cepat menghabiskan bahan bakarnya. Bersemangat dan termotivasilah seperti nyalanya lentera, stabil dan konsisten".
Semoga bermanfaat.


Komentar
Posting Komentar