![]() |
| Sumber gambar (www.playbuzz.com) |
Lebih kurang begitulah harapan kita setiap harinya. Yakin bisa seperti itu? ketika sekolah (SMP) dulu saya mencoba untuk tidak pernah bolos karena apa? karena ingin membuat nilai sempurna satu semester tanpa absen dan hal tersebut terjadi dan saya pun bahagia. Berbeda halnya ketika SMA ada saat dimana tubuh ini masih sehat namun mental dan semangat sudah hancur lebur sehingga saya malas sekolah dan ingin menyendiri untuk mengumpulkan semangat.
Saya tidak tahu apakah sobat pernah merasakan hal demikian. Setelah saya kuliah dan berkomunikasi dengan teman-teman hal tersebut dinamakan dengan istilah DEMOTIVASI. Wew... istilah baru. Selain itu, ada hal hal yang membuat kita bekerja atau beraktivitas namun tidak jelas tujuan aktivitas ini apa. seperti zombie di atas.
contoh
"Budi bekerja sebagaimana pegawai biasa bekerja. Prestasinya bagus saja hidupnya sederhana tidak kekurangan dan tidak berlebihan, namun Ia tidak bahagia karena merasa bahwa hidupnya monotone dan tidak ada perubahan sama sekali".
"Roni bekerja sama seperti Budi dengan prestasi dibawah Budi, namun Ia bahagia dan hasil pekerjaannya luar biasa".
Apa yang membedakan dua orang tersebut? berikut saya jelaskan.
Manusia ketika melakukan sesuatu, tanpa Ia sadari Ia akan berpikir "untuk apa saya melakukan ini" nah... tujuan ini biasanya terbagi dua yaitu:
1. tujuan ideal
2. tujuan manusiawi
contoh
Seorang guru bekerja mendidik anak muridnya jelas memiliki tujuan untuk mencerdaskan kehidupan berbangsa dan bernegara. Ini yang disebut dengan tujuan ideal. Saya yakin dalam hati guru tersebut juga beralasan bekerja untuk mendapatkan uang demi memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ini yang disebut dengan tujuan manusiawi.
Setelah memahami hal tersebut maka saya akan menjelaskan apa yang dimaksud dengan MAYAT HIDUP. Kita menjadi MAYAT HIDUP ketika bekerja hanya demi tujuan manusiawi tanpa cita-cita.
"jangan munafiklah bang, abang juga kerja karena uang".
Loh memang, tetapi meskipun bekerja karena uang kita mampu bekerja lebih dari kemampuan kita misalnya, saya disuruh buat proposal. bisa saja buat proposal kelas anak kuliahan yang secukupnya dan sudah memenuhi syarat cukup. Tetapi ini hidup bro... do the best. Saya bekerja karena uang dengan tujuan menafkahi keluarga. Namun saya juga mencintai pekerjaan saya sehingga saya memberikan lebih untuk pekerjaan saya sehingga saya harus memberikan hasil yang bernilai profesional untuk pekerjaan.
Jika kita bekerja tanpa ambisi dan bayangan cita-cita saya yakin karir kita mentok, gampang dapat safe zone, prestasi minimal, karena dalam pikiran kita yang penting makan cukup, gaji cukup.
Ketika SMA saya memperhatikan guru kimia saya, mengapa si Ibu begitu ambisius dan serius mendidik muridnya sampai muridnya pandai pada mata pelajarannya. Bukankah gajinya sudah cukup dan kewajibannya telah terlaksana. Mengapa Ia memberikan lebih dan memang benar-benar menjadi orang tua kedua?
Ya... karena beliau bukan Mayat Hidup yang bekerja demi gaji semata. Dibalik menyelesaikan tanggung jawabnya, ada mental ingin menjadi yang terbaik dan melakukan yang terbaik (cita-cita), ada keinginan bahwa anak kandungnya juga harus dididik oleh guru yang lebih hebat dari dia, bagaimana mendapatkan guru yang lebih hebat itu? dengan mendidik kami yang akan menjadi guru pada masa anaknya menempuh pendidikan nanti. Artinya ia melakukan yang terbaik karena ada cita-cita dan angan beserta mimpi yang harus dicapai.
Sekarang jika anda bekerja hanya dan memang untuk mendapatkan uang, maka lebih baik berhenti bekerja. Karena prestasi kerja pasti minimal. Tidak ada perusahaan yang akan mempertahankan pegawainya yang loyal, dan pegawai yang loyal itu bukan mayat hidup (bekerja hanya dan hanya untuk gaji).
![]() |
| Sumber gambar ilustrasi (foto.galihsatria.com) |
lah... memang pak. dibalik memenuhi kebutuhan sehari-hari saya yakin terlintas di benak bapak ingin menafkahi keluarga dengan cara yang baik. itulah mimpi bapak sehingga bapak bukan mayat hidup. Pedagang itu lebih bekerja keras sehingga saya rasa, saya rasa ya bisa saja saya salah. kriteria mayat hidup tidak ada pada pedagang. Jika pun ada maka dagangannya tidak berkembang.
Apakah kita Mayat Hidup? jika iya... ayo semangat.., buat cita-cita ^_^
Semoga bermanfaat...


Komentar
Posting Komentar