Motivasi... terdengar seperti kata-kata yang luar biasa. Ibarat menulis karya ilmiah motivasi ini adalah latar belakang penulisan karya ilmiah tersebut. pada umur belasan hingga dua puluhan ini berdasarkan pengalaman pribadi tentunya motivasi itu seperti kelapa yang terhanyut dibawa oleh aliran sungai. kok bisa? iya karena terkadang hilang, timbul, nyangkut bahkan terapung-apung tanpa arah dan tujuan. Apalagi untuk mahasiswa yang bingung mencari motivasi yeah... bakal malas kuliah pastinya.
Berbicara tentang motivasi, berdasarkan pengalaman saya, ada satu motivasi yang saya alami dan memang motivasi itu kuat sekali. Masa itu adalah masa-masa SMP hingga masa SMA kelas 2. Entah mengapa saya sangat termotivasi untuk masuk sekolah tanpa bolos. Sehingga bagi saya rekor tidak pernah absen dan sakit merupakan penghargaan unik dan dijunjung tinggi heheh lebay...
Tidak pernah sakit? ketika masa SMP tentu pernah sakit tetapi sesakit-sakitnya sakit, wow! Sekolah adalah proritas. Semua tugas dikerjakan, PR malah minta nambah. Entah semangat apa yang masuk ke dalam diri tetapi hal itu memang pernah terjadi. Semoga pembaca juga mengalami motivasi yang sama. yaitu motivasi tanpa alasan (karena memang tidak tahu apa motivasinya).
Berbeda halnya dengan masa SMA kelas 3 dan pertengahan kelas 2 motivasi itu mulai memiliki alasan. Alasannya variatif bisa sekolah karena kewajiban, sekolah biar bisa main bersama kawan-kawan, atau sekolah biar bisa mengamati seseorang yang disuka t[-_-]. nah... entah mengapa juga motivasi yang ada itu harus memiliki alasan dan jika alasan itu tidak ada maka enyahlah motivasi itu dari dalam hati dan hilanglah semangat berangkat sekolah sampai-sampai pusing sedikit izin, tidak mengerjakan PR dan selalu menganggap remeh pelajaran.
Lebih heboh lagi motivasi ketika kuliah. Motivasi kuliah karena kewajiban untuk berbakti kepada orang tua. Ya motovasi ini jadi booster yang cukup ampuh untuk menghentikan main game dan mulai mengerjakan skripsi. Tapi motivasi ini tetap saja ada alasannya.
setelah berumur 25 ini dan mengingat masa-masa itu saya menyadari bahwa alasan dari motivasi yang membentuk semangat itu harus ada. masa SMP dulu katanya gak ada? itu namanya dimotivasi ambisi untuk menang sehingga tidak ada kepentingan lain selain melakukan yang terbaik ketika SMP dulu. yang saya dapatkan adalah seperti ini
ALASAN --> menjadi --> MOTIVASI --> semangat bergerak -- AKSI (tergantung alasan)
Sehingga dari rumus itu kita harus pandai memilih apa atau siapa yang menjadi alasan agar kita memiliki motivasi. Saya pernah menjadikan seorang yang saya suka menjadi alasan untuk motivasi saya tetapi ketika dia pergi hilang sudah motivasi saya. Banyak hal yang tidak kekal jadi alasan untuk motivasi tetapi efeknya motivasi yang ada juga hanya numpang lewat.
Saya menyadari juga bahwa ada dua motivasi yang kekal yaitu Allah dan Keluarga. Keluarga itu gak kekal bang! Tapi alasan untuk termotivasi melakukan kebaikan yang kita lakukan berdampak kepada orang kita di akhirat dek!
Ya hanya dua itu. Ketika motivasinya Allah ya melakukan sesuatu karena mengharap ridho Allah bukan karena harta atau lainnya. Coba walaupun usaha kita yang termotivasi karena Allah tidak berhasil namun itu akan dinilai ibadah oleh Allah karena jika alasan sebuah motivasi adalah Allah tentu dan harusnya metode, cara, dan kegiatannya berdasarkan batasan yang Allah tentukan sehingga berhasil atau tidak kita tetap memperoleh hasil. darimana hasilnya? dari Allah.
Susah bang... iyalah dek manusiawi itu, makanya mendekatkan dirilah kepada Allah SWT. caranya dengan BERUSAHA mendekatkan diri kepada Allah. Allah akan melihat prosesnya kok tidak menunggu hasil. Kalau kita manusia yang banyak kekurangan ini berusaha sebaik mungkin karena Allah dan berusaha mendekat kepada-Nya. Insyaallah akan ada kebaikan dari usaha-usaha kita. Kok abang tau? ada di Al Qur'an dek.
Ya ini yang saya tahu karena berkali-kali gagal termotivasi oleh dunia akhirnya saya juga berusaha agar Allah merupakan motivasi satu-satunya. keluarga juga menjadi tambahan alasan motivasi agar ibu dan ayah dirahmati Allah karena kita sebagai anak menjadikan Allah sebagai motivasi kita. aamiin
Berbicara tentang motivasi, berdasarkan pengalaman saya, ada satu motivasi yang saya alami dan memang motivasi itu kuat sekali. Masa itu adalah masa-masa SMP hingga masa SMA kelas 2. Entah mengapa saya sangat termotivasi untuk masuk sekolah tanpa bolos. Sehingga bagi saya rekor tidak pernah absen dan sakit merupakan penghargaan unik dan dijunjung tinggi heheh lebay...Tidak pernah sakit? ketika masa SMP tentu pernah sakit tetapi sesakit-sakitnya sakit, wow! Sekolah adalah proritas. Semua tugas dikerjakan, PR malah minta nambah. Entah semangat apa yang masuk ke dalam diri tetapi hal itu memang pernah terjadi. Semoga pembaca juga mengalami motivasi yang sama. yaitu motivasi tanpa alasan (karena memang tidak tahu apa motivasinya).
Berbeda halnya dengan masa SMA kelas 3 dan pertengahan kelas 2 motivasi itu mulai memiliki alasan. Alasannya variatif bisa sekolah karena kewajiban, sekolah biar bisa main bersama kawan-kawan, atau sekolah biar bisa mengamati seseorang yang disuka t[-_-]. nah... entah mengapa juga motivasi yang ada itu harus memiliki alasan dan jika alasan itu tidak ada maka enyahlah motivasi itu dari dalam hati dan hilanglah semangat berangkat sekolah sampai-sampai pusing sedikit izin, tidak mengerjakan PR dan selalu menganggap remeh pelajaran.
Lebih heboh lagi motivasi ketika kuliah. Motivasi kuliah karena kewajiban untuk berbakti kepada orang tua. Ya motovasi ini jadi booster yang cukup ampuh untuk menghentikan main game dan mulai mengerjakan skripsi. Tapi motivasi ini tetap saja ada alasannya.
setelah berumur 25 ini dan mengingat masa-masa itu saya menyadari bahwa alasan dari motivasi yang membentuk semangat itu harus ada. masa SMP dulu katanya gak ada? itu namanya dimotivasi ambisi untuk menang sehingga tidak ada kepentingan lain selain melakukan yang terbaik ketika SMP dulu. yang saya dapatkan adalah seperti ini
ALASAN --> menjadi --> MOTIVASI --> semangat bergerak -- AKSI (tergantung alasan)
Sehingga dari rumus itu kita harus pandai memilih apa atau siapa yang menjadi alasan agar kita memiliki motivasi. Saya pernah menjadikan seorang yang saya suka menjadi alasan untuk motivasi saya tetapi ketika dia pergi hilang sudah motivasi saya. Banyak hal yang tidak kekal jadi alasan untuk motivasi tetapi efeknya motivasi yang ada juga hanya numpang lewat.
Saya menyadari juga bahwa ada dua motivasi yang kekal yaitu Allah dan Keluarga. Keluarga itu gak kekal bang! Tapi alasan untuk termotivasi melakukan kebaikan yang kita lakukan berdampak kepada orang kita di akhirat dek!
Ya hanya dua itu. Ketika motivasinya Allah ya melakukan sesuatu karena mengharap ridho Allah bukan karena harta atau lainnya. Coba walaupun usaha kita yang termotivasi karena Allah tidak berhasil namun itu akan dinilai ibadah oleh Allah karena jika alasan sebuah motivasi adalah Allah tentu dan harusnya metode, cara, dan kegiatannya berdasarkan batasan yang Allah tentukan sehingga berhasil atau tidak kita tetap memperoleh hasil. darimana hasilnya? dari Allah.
Susah bang... iyalah dek manusiawi itu, makanya mendekatkan dirilah kepada Allah SWT. caranya dengan BERUSAHA mendekatkan diri kepada Allah. Allah akan melihat prosesnya kok tidak menunggu hasil. Kalau kita manusia yang banyak kekurangan ini berusaha sebaik mungkin karena Allah dan berusaha mendekat kepada-Nya. Insyaallah akan ada kebaikan dari usaha-usaha kita. Kok abang tau? ada di Al Qur'an dek.
Ya ini yang saya tahu karena berkali-kali gagal termotivasi oleh dunia akhirnya saya juga berusaha agar Allah merupakan motivasi satu-satunya. keluarga juga menjadi tambahan alasan motivasi agar ibu dan ayah dirahmati Allah karena kita sebagai anak menjadikan Allah sebagai motivasi kita. aamiin
Komentar
Posting Komentar